Jadi kaya itu baik, tapi kalau nasibnya miskin meski sudah usaha, maka harus sabar dan ikhlas.
Kisah:
Suatu ketika, ada sahabat yang pergi ke Nabi dan bertanya, "Nabi, kami ini miskin, jadi amalannya sedikit, kalah dengan orang kaya yang punya banyak amal. Apa yang dapat kami lakukan?" Kata Nabi, "Lakukanlah dzikir Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahuakbar 33 kali." Selang beberapa lama, sahabat datang lagi, " Nabi, orang-orang kaya mengikuti dzikir kami. Bagaimana ini?" Kata Nabi, "Ya sudah, terima saja nasibmu dengan ikhlas".
Kalau jadi orang kaya, maka kita harus bersyukur, kalau jadi orang miskin harus sabar dan ikhlas, supaya dapat pahala juga dari sabar dan ikhlas itu. Kalau mungkin kita sudah berusaha dan kita tidak kaya sekarang, mungkin bisa saja anak/cucu/keturunan kita ada yang kaya.
Kalau bisa kemiskinan itu juga disyukuri.
Kisah:
Dulu, Gus Dur pergi ke luar negeri kalau tidak salah ke Italia, dst. Beliau lama tidak pulang, ketika pulang dicegat sama orang NU, lalu uang yang didapat Gus Dur diberikan semua (untuk keperluan organisasi). Ketika Gus Dur pulang ke rumah, istrinya bilang kalau anaknya yang kuliah di Jogja harus dikirim uang. Lalu, Gus Dur bilang kalau uangnya sudah dikasihkan orang NU. Kemudian, istrinya ngomel dan melempar sandal ke Gus Dur. Yang cerita ini itu Gus X (disebutkan, tapi aku lupa namanya). Gus X ini pas Gus Dur digitukan, melirik sedikit reaksi Gus Dur. Eh, ternyata Gus Dur malah tidur.
Mengeraskan suara dzikir
Mengeraskan suara dzikir, juga pernah dilakukan ketika zaman Nabi. Tujuannya apa? Untuk memberikan edukasi pada mereka yang tidak sempat ke madrasah/ngaji, intinya untuk mereka yang belum tahu, supaya mereka bisa bacaan dzikir. Kalau, imamnya tidak mengeraskan, bagaimana mereka bisa? Lalu, apakah salah tidak mengeraskan? Tidak, semuanya tidak salah. Tinggal ambil yang mana.
Membaca ayat kursi setelah shalat itu baik karena pembacanya akan masuk surga dan yang menghalanginya masuk surga adalah karena kehidupan ini (masih hidup).
Waktu yang baik untuk berdo'a:
1. Ba'da shalat fardhu
2. Sepertiga malam/ba'da tahajud
Kisah:
Seorang ibu, anaknya nakal sampai dipenjara. Ibu itu pergi ke Kyai dan bertanya ke Kyai, "Kyai, anak saya nakal, bagaimana ini?" Kata Kyai, "Do'akan setelah tahajud Bu. " Lalu, ibu itu mendo'akan anaknya. Tetapi, anaknya malah masuk penjara lagi. Dia bertanya ke Kyai lagi. "Kyai, anak saya malah masuk penjara lagi, bagaimana ini?" Kata Kyai, "Do'akan terus Bu. " Akhirnya, ketika anaknya pulang dari penjara, di waktu subuh terdengar suara imam yang seperti suara anaknya. Ternyata, itu memang anaknya. Hikmah masuk penjara kedua adalah si anak dipertemukan dengan seorang yang hafal Al-Qur'an sehingga selama 2 tahun di penjara, anak ini setoran hafalan Al-Qur'an. Intinya, do'a si ibu ini dikabulkan Allah, meski waktunya lama.
Jangan lelah berdo'a!
Jangan lelah ikhtiar!
Jangan su'udzon pada Allah!
Malah kalau do'a langsung dikabulkan itu, kadang malah takut, jangan-jangan Allah tidak suka. Ibarat orang ngamen, kalo kita tidak suka, maka buru-buru kita kasih uang, tapi kalau suka didengarkan dulu. Mungkin, Allah suka dengan suara do'a kita, sehingga tidak langsung dikabulkan (kita tidak boleh su'udzon dengan Allah).
Cara berdo'a :
1. Sendiri-sendiri
2. Dipimpin imam dan mengamini
Kalau ada orang mati, ucapkan yang baik-baik dan kita mengamini do'a imam karena diamini malaikat. (Rasul juga pernah melakukannya pada sahabat).
Suatu saat Nabi musafir, shalat dzuhur 2 rakaat, asar 2 rakaat. Setelah shalat, Nabi pergi, sahabat bubar. Kemudian, sahabat megang tangan nabi dan diusapkan ke wajah (cium tangan). Jadi, cium tangan juga pernah dilakukan di zaman Nabi.
#cmiiw
#silahkan dikoreksi dengan santun kalau ada yang keliru.
#kajianpagisasfm
Catatan ini dibuat pas dengar kajian, kalau ada yang salah mohon diberitahukan dengan santun. Catatan ini mungkin tidak sama persis dengan kata-kata Ustadz nya, tapi kurang lebih seperti di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan sopan ya OAKers :)